NABIRE | SUARACYCLOPS.COM – Alpius Toam mengajak Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua menjadikan peringatan 70 tahun sebagai momentum evaluasi pelayanan, penguatan integritas para pelayan gereja, serta persiapan generasi penerus kepemimpinan.
Ajakan tersebut disampaikan Alpius melalui renungan berjudul “70 Tahun GKI di Tanah Papua: Belajar dari Nabi Musa, Setia dalam Pelayanan, Siap Menyongsong Masa Depan”, yang ditulis di Nabire, Selasa (27/10).
Dalam renungan tersebut, Alpius menegaskan bahwa perjalanan GKI selama 70 tahun tidak cukup hanya diperingati dengan mengenang sejarah dan keberhasilan organisasi. Gereja juga perlu mengevaluasi kualitas pelayanan serta memastikan bahwa seluruh kegiatannya tetap berlandaskan iman dan kehendak Tuhan.
Ia menggunakan kisah Nabi Musa dalam memimpin bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian sebagai pelajaran bagi para pelayan GKI. Menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab untuk membantu umat menghadapi berbagai persoalan, termasuk kemiskinan, ketidakadilan, perpecahan, ketidakjujuran, dan hilangnya harapan.
Alpius juga menyoroti pentingnya integritas dalam menjalankan jabatan pelayanan. Ia mengingatkan bahwa jabatan, pengalaman, dan lamanya pengabdian tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk mengabaikan ketaatan kepada Tuhan.
“Jabatan bukan pengganti ketaatan. Pengalaman bukan pengganti kekudusan. Lamanya pengabdian bukan alasan untuk mengabaikan kehendak Tuhan,” demikian pesan Alpius dalam renungannya.
Ia menilai keberhasilan pelayanan gereja tidak hanya diukur dari pembangunan gedung, besarnya organisasi, atau banyaknya kegiatan. Pelayanan juga harus mampu membangun iman, membentuk karakter, dan memberikan teladan bagi warga jemaat.
Selain integritas, Alpius menekankan perlunya pembenahan hubungan antarpelayan gereja. Ia mengingatkan bahwa sikap egois, iri hati, perebutan jabatan, penyalahgunaan kepercayaan, dan konflik internal yang tidak diselesaikan dengan baik dapat menghambat pelayanan.
Karena itu, ia mengajak para pendeta, penatua, diaken, pengurus, dan seluruh warga jemaat untuk melakukan introspeksi, bersedia menerima teguran, serta memperbaiki diri demi menjaga persatuan dan kepentingan jemaat.
Menurut Alpius, GKI membutuhkan pelayan yang tidak hanya mampu berbicara tentang pekerjaan Tuhan, tetapi juga menunjukkan kasih, kejujuran, kebenaran, dan kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam renungan yang sama, ia turut menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan di lingkungan GKI. Ia mengambil pelajaran dari kisah Musa yang kemudian digantikan Yosua untuk memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian.
Alpius mengajak para pelayan senior memberikan bimbingan dan kesempatan kepada generasi muda untuk terlibat dalam pelayanan. Sebaliknya, generasi muda diharapkan tetap menghormati sejarah gereja, menjaga iman, dan menjalankan tanggung jawab dengan integritas.
Ia mengingatkan agar jabatan tidak dipertahankan semata-mata karena merasa paling berjasa, sementara generasi penerus tidak seharusnya dihambat karena dianggap sebagai pesaing.
“Pemimpin boleh berganti, tetapi misi Tuhan harus terus berjalan,” tegasnya dalam renungan tersebut.
Lebih lanjut, Alpius menyebut peringatan 70 tahun GKI sebagai kesempatan untuk memperkuat kepedulian terhadap masyarakat, meningkatkan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya gereja, serta memperluas keterlibatan anak-anak, pemuda, perempuan, dan seluruh warga jemaat dalam pelayanan.
Ia berharap GKI di Tanah Papua terus bertumbuh menjadi gereja yang dewasa dalam iman, kuat dalam kasih, bertanggung jawab dalam tata kelola, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua.
Renungan tersebut ditulis oleh Alpius Toam, Kepala Program Pendidikan (Ka. Prodik) Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, di Nabire, 27 Oktober 2026. (DanTop)
0 Komentar