Foto bersama usai pembukaan kegiatan Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda Adat I Wilayah MAMTA-TABI di Hotel Suny Garden Lake Sentani, Kelurahan Sentani Kota, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Rabu, 7/10/2026 (Foto; Dani)
SENTANI, JAYAPURA | SUARACYCLOPS.COM — Bupati Jayapura, Yunus Wonda, berharap Konferensi III Masyarakat Adat dan Konferensi I Pemuda Adat Wilayah Mamta-Tabi tidak hanya menjadi ruang pertemuan, tetapi mampu menghasilkan keputusan yang dapat menjadi pegangan bagi masyarakat dan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Yunus Wonda dalam sambutan sekaligus ucapan selamat datang pada pembukaan konferensi yang berlangsung di Hotel Suni Garden Lake Sentani, Kelurahan Sentani Kota, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Rabu (7/10).
Dalam sambutannya, Wonda menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang telah hadir dalam kegiatan tersebut. Ia berharap konferensi dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan keputusan yang benar-benar dapat memberikan arah bagi masyarakat adat dan pemuda adat.
Menurut Wonda, hasil konferensi harus memiliki kejelasan sehingga dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan masyarakat adat.
“Harus ada keputusan-keputusan yang bisa menjadi pegangan sebagai Bupati,” ujar Wonda.
Ia juga mengingatkan masyarakat Papua, khususnya masyarakat adat, agar tidak mudah melemahkan posisi dan identitasnya sendiri.
Wonda menilai identitas sebagai masyarakat adat merupakan bagian penting yang harus dijaga. Karena itu, masyarakat perlu memahami dan mempertahankan hak-hak adat yang dimiliki agar tidak mudah kehilangan posisi dalam berbagai persoalan yang menyangkut tanah, adat dan kehidupan masyarakat.
Dalam sambutannya, Wonda juga menyinggung pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak dengan mudah menyerahkan atau melepaskan sesuatu yang berkaitan dengan adat kepada pihak lain.
“Jangan pernah memberikan. Saya selalu bilang, saya bukan anak asli, tidak boleh kita kasih kepada orang lain. Jangan kita melemahkan posisi kita sendiri, agar kita gampang sekali diberikan kepada orang lain,” katanya.
Menurutnya, ketika masyarakat menyerahkan atau melepaskan sesuatu yang berkaitan dengan adat tanpa mempertimbangkan hak dan kepentingan masyarakat, maka posisi masyarakat adat sendiri dapat menjadi lemah.
Karena itu, ia mengajak peserta konferensi untuk memperkuat pemahaman mengenai adat dan hak masyarakat adat. Menurut Wonda, masyarakat harus memiliki sikap dan pendirian yang jelas dalam menjaga identitas serta hak-hak adat.
Konferensi tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat adat dan pemuda adat untuk membahas berbagai persoalan secara terbuka, sekaligus menghasilkan keputusan yang dapat menjadi pegangan bersama.
Wonda juga berharap hasil konferensi tidak berhenti pada dokumen atau keputusan di dalam forum, tetapi dapat diterjemahkan dalam langkah nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat adat dan pembangunan di Kabupaten Jayapura serta Wilayah Mamta-Tabi. (DanTop)
0 Komentar