SENTANI, JAYAPURA | SUARACYCLOPS.COM – Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Huruwakha, Magrid Linda Tokoro, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua atas bantuan mesin pengolahan sagu yang diberikan kepada kelompoknya.
Bantuan tersebut diserahkan di Rumah Sagu, Pos 7 Sentani, Kelurahan Sentani Kota, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (24/9).
Penyerahan dilakukan oleh Wakil Gubernur Papua yang didampingi Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Pokja Perempuan, Fibiola Iriani Ohei.
Mesin tersebut akan digunakan untuk mendukung pengolahan sagu menjadi sejumlah produk, termasuk beras analog dan mie sagu.
Magrid mengatakan, bantuan mesin sangat berarti bagi kelompok perempuan yang selama ini berusaha mengembangkan berbagai produk pangan lokal berbahan dasar sagu.
“Saya sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani Huruwakha menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Bantuan mesin ini sangat membantu kami untuk meningkatkan usaha dan perekonomian keluarga,” ujarnya.
Menurut Magrid, kegiatan yang dilakukan kelompok tidak hanya melibatkan perempuan dari satu kampung. Sejumlah perempuan dari kampung lain juga dilibatkan agar mereka mendapatkan pengalaman dan terinspirasi untuk mengembangkan produk unggulan di kampung masing-masing.
Ia berharap setiap kampung memiliki produk khas yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan bagi keluarga.
“Harapan kami, perempuan yang bergabung dan mengikuti kegiatan ini bisa terinspirasi. Ketika kembali ke kampung, mereka juga bisa mengembangkan produk unggulan sesuai potensi yang ada di kampungnya,” katanya.
Sagu Diolah Menjadi Beragam Produk
Magrid mengatakan, sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai jenis pangan.
Kelompoknya selama ini telah mencoba mengolah sagu menjadi tepung serta sejumlah produk makanan, seperti beras sagu, mie sagu, kerupuk, bakso sagu hingga es krim berbahan sagu.
Menurutnya, pengembangan produk turunan sagu penting agar pangan lokal tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk tradisional, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang lebih beragam dan memiliki nilai jual.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong perempuan di kampung-kampung lain untuk melihat potensi pangan lokal di wilayah masing-masing.
“Setiap kampung kalau bisa memiliki produk unggulan sendiri. Potensi yang ada bisa diolah dan dikembangkan sehingga memberikan penghasilan bagi keluarga,” ujarnya.
Magrid menilai keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi sangat penting karena pendapatan dari usaha kecil dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mendukung masa depan anak-anak.
Karena itu, ia berharap Pemerintah Provinsi Papua terus memberikan perhatian kepada kelompok usaha perempuan, terutama perempuan Orang Asli Papua yang sedang mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Rumah Produksi Masih Jadi Kendala
Meski telah memiliki sejumlah peralatan, Magrid mengungkapkan bahwa kelompoknya masih menghadapi persoalan utama, yaitu belum tersedianya rumah produksi yang layak.
Menurutnya, sejumlah mesin pengolahan saat ini masih ditempatkan dalam satu ruangan karena belum tersedia bangunan khusus untuk masing-masing kegiatan produksi.
Kondisi tersebut juga menjadi kendala dalam pengembangan produk tertentu, khususnya produk basah seperti es krim sagu.
“Untuk es krim, kami masih terkendala bangunan. Karena ini produk basah, tentu membutuhkan rumah produksi yang sesuai standar,” jelasnya.
Ia mengatakan kondisi rumah produksi juga berkaitan dengan proses pengurusan izin edar produk.
Selain es krim, pengolahan kue dan produk sagu lainnya juga membutuhkan tempat produksi yang lebih layak agar dapat dikembangkan dalam jumlah yang lebih besar.
Karena itu, setelah menerima bantuan mesin, pihaknya berharap ada perhatian lanjutan dari pemerintah terhadap kebutuhan bangunan atau rumah produksi.
Masih Banyak Produk Dibawa untuk Promosi
Magrid menjelaskan bahwa selama ini sejumlah produk yang dihasilkan kelompok masih lebih banyak dibawa ke berbagai kegiatan sebagai bahan promosi.
Kelompok belum mampu memproduksi dalam jumlah besar karena keterbatasan fasilitas produksi.
“Selama ini kalau ada kegiatan atau event, kami membawa produk untuk promosi. Kami belum bisa memproduksi lebih banyak karena salah satu kendalanya adalah rumah produksi yang belum layak,” katanya.
Ia berharap pembangunan rumah produksi dapat segera mendapat perhatian agar mesin-mesin yang telah diberikan pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal dan kegiatan produksi bisa berjalan secara rutin.
Selain mengembangkan pangan berbahan sagu, Magrid juga menyoroti kebutuhan pakan bagi usaha perikanan dan peternakan masyarakat, termasuk masyarakat yang menggantungkan hidup dari potensi Danau Sentani.
Ia berharap pemerintah melalui dinas terkait terus memberikan pelatihan, peralatan serta pendampingan agar kelompok-kelompok perempuan dapat berkembang menjadi usaha yang mandiri.
“Harapan kami sederhana, bantuan yang sudah diberikan ini bisa ditindaklanjuti dengan fasilitas yang dibutuhkan supaya produksi benar-benar berjalan dan memberikan manfaat bagi anggota kelompok,” pungkasnya. (DanTop)
0 Komentar