SENTANI, JAYAPURA | Suaracyclops.com — Masyarakat adat Kampung Sereh, Kabupaten Jayapura, Papua, bersama Pemerintah Kampung Sereh, lembaga adat, WWF Indonesia Program Papua, dan sejumlah komunitas melakukan aksi penanaman 150 pohon sagu di lokasi Yeuw Sereh, Sabtu (15/8).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat adat menjaga keberlangsungan sagu sebagai sumber pangan lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal Papua.
Aksi penanaman sagu juga disertai penyampaian aspirasi masyarakat terkait Program Strategis Nasional (PSN), khususnya program cetak sawah. Masyarakat menilai kebijakan pembangunan pangan perlu mempertimbangkan kondisi ekologis, budaya, serta kebutuhan masyarakat adat Papua.
Ketua PD AMAN Jayapura, Benhur Wally, mengatakan penanaman sagu merupakan salah satu bentuk nyata masyarakat adat dalam menjaga sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Menurutnya, sagu dan umbi-umbian merupakan bagian penting dari pangan dan kebudayaan masyarakat Papua sehingga program pembangunan seharusnya disesuaikan dengan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Menurut kami, kegiatan penanaman pohon sagu lebih dikedepankan dan diutamakan dibandingkan program cetak sawah. Makanan pokok kita di Papua adalah sagu dan umbi-umbian,” ujar Benhur.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menerapkan program pangan secara seragam, tetapi juga mencari pendekatan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan karakter wilayah Papua.
Benhur juga menegaskan bahwa aksi penanaman sagu merupakan bentuk pesan dari masyarakat adat bahwa lahan di Papua tidak dapat begitu saja dipandang sebagai tanah kosong yang dapat dialihkan untuk berbagai program pembangunan.
“Tanah-tanah yang ada merupakan milik masyarakat yang harus dikelola dengan upaya dan kebersamaan masyarakat sendiri. Perencanaan pembangunan kampung ke depan harus dibicarakan melalui musyawarah adat,” katanya.
Menjaga Warisan untuk Anak Cucu
Dalam momentum peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, Benhur mengajak masyarakat Kampung Sereh memperkuat kembali kelembagaan adat serta melakukan pendataan terhadap potensi dan kekayaan kampung.
Ia menilai data mengenai jumlah pohon sagu, lahan, keluarga, serta sumber daya yang dimiliki masyarakat penting sebagai inventarisasi kehidupan masyarakat adat bagi generasi mendatang.
“Di hari masyarakat adat, Kampung Sereh harus bisa menunjukkan sesuatu. Kita punya data kelembagaan adat yang baik, kita tahu kekayaan kampung kita dan hubungan dengan pemerintah juga berjalan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Suku Assa di Kampung Sereh, Larry Assa, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan penanaman sagu yang dilakukan bersama masyarakat, pemerintah kampung, AMAN, dan WWF Indonesia.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada penanaman hari ini, tetapi dapat dilanjutkan secara berkelanjutan.
“Kalau bisa, ke depannya setiap suku di Kampung Sereh mempunyai lahan yang disiapkan untuk penanaman sagu dan tanaman lainnya demi anak cucu kita di masa depan,” kata Larry.
Sebelum penanaman dilakukan, masyarakat adat terlebih dahulu melaksanakan ritual doa menggunakan bahasa Sentani. Ritual tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap adat dan leluhur, sekaligus memohon agar pohon-pohon sagu yang ditanam dapat dijaga dan tumbuh dengan baik.
WWF Dorong Kampung Sereh Jadi Model
Dukungan juga datang dari WWF Indonesia Program Papua. Bernadus Ronald J. Tethool, SP, Program Manager Jayapura-Sarmi Landscape Yayasan WWF Indonesia Program Papua, mengapresiasi inisiatif masyarakat Kampung Sereh yang terus mendorong penanaman sagu dan penguatan pangan lokal.
Menurutnya, upaya tersebut penting karena Kampung Sereh berada di kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan berada di sekitar kawasan Pegunungan Cycloop.
“Ini harus terus dilakukan sehingga Kampung Sereh dapat menjadi model bagi kampung-kampung lain di sekitarnya,” ujar Bernadus.
WWF Indonesia, kata dia, siap terus berkolaborasi dengan masyarakat, khususnya dalam aspek teknis penanaman, pemantauan, dan pengawasan.
Bernadus menambahkan, kerja sama WWF dengan masyarakat Kampung Sereh melalui Sanggar Seni Robonghollo dalam pengembangan dan penanaman sagu telah berlangsung cukup lama, terutama melalui upaya menjaga Dusun Sagu Ebha Hekhe.
“Upaya penanaman sagu ini tidak hanya ada di Dusun Sagu Ebha Hekhe, tetapi sekarang harus berkembang ke Kampung Sereh secara utuh,” katanya.
Aksi penanaman 150 pohon sagu tersebut menjadi pesan kuat masyarakat adat Kampung Sereh bahwa menjaga sagu bukan sekadar menanam pohon, melainkan merawat pangan, budaya, tanah, dan kehidupan untuk generasi yang akan datang. (DanTop)
0 Komentar