SENTANI,JAYAPURA | Suaracyclops.com – Peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) menjadi momentum bagi masyarakat adat untuk kembali memperkuat semangat menjaga identitas, pengetahuan tradisional, wilayah adat, serta lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, peringatan HIMAS tahun 2026 diisi dengan diskusi santai yang mempertemukan sejumlah komunitas dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Kegiatan tersebut berlangsung di lokasi wisata Dusun Sagu (Ebha Hekhe), Kampung Sereh, Minggu, 9 Agustus 2026.
Diskusi dihadiri Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jayapura Benhur Yudha Walli, bersama Komunitas Sanggar Seni dan Budaya Robonghollo Kampung Sereh, Komunitas Rumah Bakau Jayapura, Aliansi Jurnalis Masyarakat Adat (AJMAN), WWF, serta masyarakat Kampung Sereh.
Pertemuan berlangsung dalam suasana santai dan penuh kebersamaan. Berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat dan lingkungan menjadi bahan pembicaraan.
Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah pentingnya pelestarian dan penanaman pohon sagu sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mempertahankan sumber pangan dan pengetahuan masyarakat adat.
Bagi masyarakat Papua, sagu tidak hanya dipandang sebagai tanaman pangan. Sagu juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan pengetahuan tradisional masyarakat adat.
Karena itu, menjaga keberadaan dusun sagu dipandang penting agar generasi mendatang tetap dapat mengenal, memanfaatkan, dan merawat sumber daya alam yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Dalam diskusi tersebut, peserta juga mendorong adanya keterlibatan bersama antara masyarakat adat, komunitas, organisasi lingkungan, jurnalis, dan berbagai pihak lainnya untuk melakukan langkah nyata dalam menjaga lingkungan.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan besar peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, yang setiap 9 Agustus menjadi momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap hak, identitas, budaya, pengetahuan, wilayah, dan sumber daya alam masyarakat adat. Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi 49/214 pada 23 Desember 1994.
Dalam konteks kegiatan di Kampung Sereh, semangat tersebut diterjemahkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan dusun sagu.
“Kedaulatan Pengetahuan Masyarakat Adat: Menjaga Bumi, Mensejahterakan dan Merawat Kehidupan” menjadi semangat yang mengiringi kegiatan, dengan penekanan bahwa pengetahuan masyarakat adat perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan ini juga menjadi awal dari rencana aksi nyata berupa penanaman di lahan Dusun Sagu Yeuw, Kampung Sereh, yang dijadwalkan pada Jumat, 14 Agustus 2026 pukul 10.00 WIT hingga selesai.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memperingati HIMAS secara seremonial, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga alam dan memperkuat keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat adat.
Bagi masyarakat Kampung Sereh, merawat sagu berarti merawat alam, budaya, dan kehidupan. Sebab, pengetahuan yang diwariskan leluhur bukan sekadar bagian dari masa lalu, tetapi juga menjadi bekal penting untuk menjaga masa depan. (DanTop)
0 Komentar